Butuh Bantuan?
Alasan Tidur dengan Kamar Gelap Lebih Baik untuk Kesehatan

Tidur adalah kebutuhan dasar yang sama pentingnya dengan makan dan bernapas. Sayangnya, kebanyakan orang hanya fokus pada durasi, tapi kurang memperhatikan kualitasnya. Salah satunya, sebagian orang, enggan tidur dengan kondisi kamar gelap.
Umumnya, orang dewasa butuh 7-8 jam tidur setiap malam. Kurang tidur, bisa berpengaruh pada konsentrasi, metabolisme, mood, hingga sistem hormonal. Kasus yang sama bahayanya juga terjadi saat kita tidur dalam kondisi kamar yang terang. Kenapa demikian?
Ternyata, paparan cahaya saat tidur, bisa mengganggu ritme biologis tubuh dan menurunkan kadar melatonin yang berperan mengantarkan tubuh ke dalam mode deep sleep (tidur nyenyak). Tanpa tidur yang benar-benar nyenyak, istirahat tidak akan optimal.
Kenapa Tidur di Kamar Gelap Sangat Penting?

Pentingnya tidur dalam kondisi gelap, sebetulnya telah banyak dikaji oleh para ahli. Salah satunya ialah Joyce Walsleben dari New York University School of Medicine. Walsleben menjelaskan bahwa, meski mata kita tertutup saat tidur, cahaya tetap dapat menembus kelopak mata.
Itu artinya, otak akan tetap menerima sinyal cahaya dan bisa menghambat produksi melatonin. Menurut Walsleben, manusia membutuhkan suasana kamar yang gelap. Selain nyaman, kondisi gelap juga bisa membantu tubuh dalam mempersiapkan diri untuk istirahat yang paling optimal.
Cahaya Bisa Mengacaukan Jam Tidur Biologis
Tubuh kita memiliki jam internal bernama ritme sirkadian. Jam ini, mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk suhu tubuh, metabolisme, produksi hormon, serta rasa kantuk. Lantas, apa yang terjadi ketika mata kita menangkap cahaya?
Ketika mata menangkap cahaya, cahaya merangsang saraf dari retina ke bagian otak yang mengatur ritme sirkadian tadi. Otak, lalu akan menekan produksi melatonin. Akhirnya, tubuh menganggap kondisi belum petang (belum waktunya istirahat), sehingga kita tetap terjaga (atau bisa tidur, tapi kualitasnya dangkal).
Inilah sebabnya, kita lebih terasa mengantuk pada malam hari (saat hari gelap). Begitu pun, saat terpapar cahaya sebelum tidur, membuat kita lebih sulit terlelap. Dan juga, tidur dengan lampu menyala kerap membuat kualitas tidur berkurang drastis.
Tubuh pada dasarnya menginterpretasikan cahaya sebagai sinyal untuk beraktivitas. Karena itu, paparan cahaya di malam hari (bahkan cahaya redup dari lampu tidur, televisi, atau layar ponsel) dapat mengganggu pola tidur alami tubuh.
Dampak Tidur dengan Lampu Menyala
Selain mampu mengacaukan jam biologis, tidur dengan kamar terang faktanya juga memiliki risiko kesehatan yang tidak bisa kita anggap sepele. Berikut adalah sejumlah dampak kesehatan yang telah diteliti oleh para ahli.
1. Berisiko Kanker Tertentu
Peneliti menemukan bahwa paparan cahaya buatan di malam hari bisa meningkatkan risiko kanker payudara. Hasil penelitian terhadap 1.679 perempuan yang terbit di dalam Chronobiology International menunjukkan adanya hubungan antara cahaya malam dan risiko kanker.
Gangguan ritme sirkadian dapat meningkatkan hormon stres, serta menyebabkan ketidakseimbangan hormonal. Menurut studi tersebut, kondisi ini, bisa menciptakan lingkungan tubuh yang memicu pertumbuhan sel tidak normal.
2. Memicu Obesitas

Cahaya di malam hari mengganggu kerja hormon seperti ghrelin (pengatur rasa lapar), insulin (pengatur gula darah), dan serotonin (pengatur mood dan metabolisme). Saat ritme sirkadian terganggu, tubuh menjadi lebih sulit mengatur nafsu makan dan metabolisme.
Hal ini dapat meningkatkan risiko kegemukan, diabetes tipe 2, dan depresi. Melansir Hello Sehat, temuan dari studi ini bahkan membuat American Medical Association mengeluarkan perhatian serius mengenai bahaya cahaya buatan pada malam hari.
3. Mengacaukan Siklus Menstruasi
Tidur dengan paparan cahaya berlebihan juga berdampak pada wanita. Penelitian dalam Nurse Health Study II (melibatkan 71.077 wanita) menemukan bahwa, pekerja shift malam memiliki risiko siklus menstruasi tidak teratur.
Mengutip dari studi tersebut, gangguan tidur dan ritme sirkadian bisa memengaruhi Hipotalamus-Pituitary-Ovarian (HPO). Ini adalah jalur komunikasi pada otak yang mengatur pelepasan hormon ovulasi seperti FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone).
4. Meningkatkan Risiko Depresi

Penelitian di Molecular Psychiatry melaporkan bahwa cahaya redup (bahkan setara lampu tidur) dapat memicu perubahan fisiologis yang mirip dengan gejala depresi. Pada studi terhadap hewan, ditemukan bahwa paparan cahaya lembut pada malam hari menurunkan aktivitas otak tertentu dan memicu perilaku mirip depresi.
Menurut Tracy Bedrosian dari Ohio State University, gangguan ritme sirkadian dan rendahnya kadar melatonin adalah faktor utama penyebab efek tersebut. Untungnya, gejala ini bisa hilang bila pola tidur dan kondisi pencahayaan kembali normal.
5. Insomnia
Studi Harvard menunjukkan bahwa pencahayaan dari lampu pijar di malam hari, dapat mengurangi kadar melatonin. Akibatnya, otak akan sulit memasuki fase deep sleep (tidur nyenyak). Bukan cuma lampu, cahaya lain seperti TV, HP, tablet, atau laptop juga punya efek yang sama.
Selain penggunaan cahaya yang bijak, Herba TDR juga bisa menjadi pilihan aman untuk mengatasi insomnia, badan lelah akibat kurang tidur, dan gangguan tidur lain. Komposisi bahan alami, seperti Myristica fragrans, Centella asiatica, dan Curcuma xanthorrhiza juga bagus untuk menjaga daya tahan tubuh.

