Butuh Bantuan?
Bikin Insomnia, Bagaimana Tanda Bantal & Seprai Harus Dicuci?

Kapan terakhir kali kalian mencuci seprai dan sarung bantal? Cukup terdengar sepele, tetapi faktanya, kebersihan tempat tidur memiliki peran besar pada nyenyak atau tidaknya tidur kita. Terlebih soal bantal dan seprai, ada beragam tanda kapan ia harus segera dicuci!
Di sisi lain, susah tidur akibat kurangnya kebersihan ini, sering luput dari perhatian kita. Saat mengalami insomnia, seringnya kita menyalahkan faktor-faktor lain, misal kopi, stres, dan lain-lain. Padahal, kebersihan kamar adalah salah satu faktor yang juga bisa memicu susah tidur.
Ada Jutaan Bakteri dalam Bantal & Seprai Kotor

Melansir dari Senarai Blog, setiap malam, tubuh kita rutin melakukan pembuangan meskipun kita sedang terlelap. Kita melepaskan ribuan sel kulit mati, mengeluarkan minyak alami, dan bahkan bisa memproduksi keringat hingga setengah liter (sebanyak botol air mineral ukuran sedang).
Dr. Primrose Freestone, seorang profesor mikrobiologi klinis dari Universitas Leicester, menjelaskan fenomena ini dengan gamblang. Menurut beliau, tempat tidur yang hangat dan lembap adalah surga bagi bakteri dan mikroorganisme yang tak kasat mata.
Jika tidak rutin dibersihkan, tempat tidur akan berubah menjadi tempat berkumpulnya bakteri, jamur, tungau debu, serbuk sari, bulu hewan peliharaan, hingga kotoran lainnya. Penumpukan kotoran biologis ini, bisa memicu berbagai masalah kesehatan.
Ahli mikrobiologi lainnya, Philip Tierno dari Universitas New York, bahkan menyebut tumpukan ini sebagai kebunnya mikroorganisme. Bayangkan, sarung bantal yang tidak kita cuci seminggu saja, bisa terkandung jutaan bakteri per inci persegi. Jumlah ini, ribuan kali lebih banyak ketimbang bakteri di dudukan toilet!
5 Tanda Sarung Bantal & Seprai Harus Dicuci
Banyak ahli menyarankan kita untuk mencuci sarung bantal dan seprai, setidaknya satu minggu sekali. Bahkan, terkadang, kondisi lingkungan dan tubuh yang kurang terjaga kebersihannya, juga bisa membuat kamar kotor lebih cepat.
Sarung bantal dan seprai yang harus dicuci, biasanya memiliki beberapa tanda yang tampak. Jika kalian menemukan salah satu dari tanda berikut, jangan tunggu jadwal mingguan tiba, tetapi segerakanlah mencuci saat itu juga!
1. Beraroma Apek dan Asam
Ini adalah tanda yang paling mudah untuk kita kenali. Coba benamkan wajah kita sedikit ke bantal dan tarik napas, apa hasilnya? Jika wangi segar detergen atau pewangi sudah hilang dan berganti menjadi bau lembap, apek, atau agak asam, itu tandanya jutaan bakteri sudah hidup di sana.
Bakteri yang hidup dalam sarung bantal dan seprai, biasanya akan melepaskan gas saat ia mengurai keringat dan sel kulit mati. Tak heran, setelah beberap waktu tak kita cuci, bantal akan mengeluarkan aroma yang kurang sedap.
2. Terdapat Noda Kekuningan

Perhatikan area seprai tempat punggung kita berbaring atau sarung bantal tempat wajah menempel. Apakah ada perubahan warna menjadi agak kekuningan? Nah, noda ini bukan sekadar kotoran saja. Melainkan, hasil oksidasi dari cairan tubuh (keringat, air liur, dan minyak alami kulit) yang sudah menumpuk dan mengering.
Oksidasi adalah reaksi zat organik dengan oksigen yang bisa mengubah warna dan struktur. Hampir mirip dengan oksidasi pada besi yang berkarat, ketika cairan tubuh menempel pada kain, molekul-molekulnya bereaksi dengan oksigen dari udara, dan terbentuklah oksidasi berwarna kuning.
3. Tekstur Kain Berat dan Lengket

Seprai yang bersih biasanya terasa ringan, sejuk, dan lembut (crisp). Jika saat kita meraba permukaannya terasa agak lengket, lembap, atau berat, itu artinya pori-pori kain sudah tersumbat oleh residu lotion, body oil, dan kotoran.
Kain yang tersumbat ini, tidak lagi breathable. Seprai dan sarung bantal, menyerap banyak sekali zat dari tubuh manusia. Zat-zat ini bersifat lipofilik (berbasis minyak), sehingga mudah sekali menempel dan menyelimuti serat kain.
4. Sering Terkena Alergi
Jika kita sering bangun tidur dengan kondisi bersin-bersin, hidung mampet, atau mata berair, padahal tidak sedang flu, bisa jadi itu adalah tanda kuat bahwa populasi tungau debu (dust mites) di bantal sudah terlalu padat. Kotoran dari tungau debu ini, mulai mengiritasi saluran pernapasan.
Iyaa, hal yang membuat kita bersin-bersin atau hidung mampet bukanlah tungau itu sendiri, melainkan kotoran tungau dan sisa-sisa tungau yang sudah mati. Kotoran tungau mengandung alergen yang mudah terhirup, lantaran ukurannya yang sangat kecil sehingga melayang di udara.
5. Jerawat yang Tak Kunjung Sembuh

Dokter kulit menyebut kondisi ini sebagai acne mechanica, jerawat yang dipicu oleh gesekan kulit dengan kain yang penuh bakteri. Jerawat biasanya muncul pada area pipi (yang menempel ke bantal), dan bisa terus muncul meski sudah melakukan perawatan wajah.
Bantal & Seprai Kotor Bisa Memicu Insomnia
Selain jorok, bantal dan seprai kotor juga erat kaitannya dengan insomnia. Kondisi tempat tidur yang kotor menciptakan gangguan fisik yang, secara tidak sadar, bikin otak kita tetap waspada dan sulit rileks. Apa efeknya pada aktivitas tidur kita?
- Alergi akibat tungau menyebabkan micro-awakenings (terbangun singkat yang tidak disadari), menghalangi tubuh masuk ke fase tidur nyenyak (deep sleep).
- Kain yang pori-porinya tersumbat kotoran membuat sirkulasi udara terhambat. Tubuh akan merasa gerah, berkeringat, dan gelisah (tossing and turning), yang dapat menunda waktu tidur kita.
- Rasa gatal sekecil apa pun akibat bakteri adalah sinyal waspada bagi otak, meski kita tidak menyadarinya. Hal ini mencegah sistem saraf untuk rileks sepenuhnya.
Cuci seprai dan sarung bantal seminggu sekali. Untuk selimut tebal dan isian bantal, cuci setiap 3-4 bulan sekali. Lakukan juga vakum pada kasur seminggu sekali. Dan jangan lupa setrika setelah mencucinya, untuk membunuh bakteri.
Jika kalian mengalami gangguan tidur, seperti insomnia, cobalah berikhtiar dengan kapsul Herba TDR untuk mengatasinya. Formulasi Myristica fragrans dan Centella asiatica di dalamnya, dapat meredakan gejala gangguan tidur dan rasa cemas, sekaligus membuat saraf lebih rileks.
Centella asiatica, komposisi tersebut bisa memodulasi sistem GABA dan membuat suasana hati lebih terjaga, memengaruhi neurotransmitter, serta mengurangi stres oksidatif berkat senyawa antioksidan di dalamnya. Kombinasi Myristica fragrans di dalamnya, juga turut memperkuat khasiatnya.

