Butuh Bantuan?
Studi di Korea: Banyak Pikiran Bunuh Diri Dipicu oleh Kurang Tidur

Banyak dari kita mungkin sudah terbiasa dengan jadwal tidur yang berantakan. Padahal, tidur yang jomplang ini, efeknya bukan cuma sekadar kantuk di siang hari. Di Korea Selatan sana, ada studi yang mencoba menganalisis kaitan kurang tidur pada siswa SMP-SMA dengan pikiran bunuh diri.
Kurang tidur mungkin sering kita anggap sepele. Namun, tahukah kalian, bahwa pola tidur yang buruk ini ternyata punya istilah medis dan bahaya tersembunyi yang tak bisa diabaikan begitu saja? Nyatanya, kurang tidur juga bisa berpengaruh terhadap mental dan psikologis seseorang.
Depresi dan pikiran bunuh diri sangatlah serius. Jika kalian atau orang terdekat sedang merasa tertekan bahkan ingin menyakiti diri, tolong cari bantuan. Segera hubungi layanan kesehatan jiwa terdekat. Ingat, kalian tidak sendirian.
Kurang Tidur Sebabkan Social Jetlag pada Studi Remaja

Ketidakseimbangan pola tidur inilah yang secara medis bernama social jetlag. Kondisi ini terjadi ketika jam biologis tubuh kita bentrok dengan jadwal aktivitas sosial. Nah, di sini tubuh menuntut untuk istirahat karena capek, tetapi jadwal dan lingkungan memaksa kita untuk tetap berkegiatan.
Dampaknya bukan main-main. Survei besar pada 2024 terhadap 48.000 lebih pelajar di Korea Selatan menemukan bahwa social jetlag memicu risiko serius, mulai dari munculnya ide untuk bunuh diri, hingga banyak tindakan percobaan bunuh diri pada generasi muda.
Semakin Jomplang Jam Tidur, Semakin Rentan Emosi

Hasil studi dari Han Seung-jun di Korean Journal of Health Research mencatatkan fakta yang memprihatinkan. Dari 48.000 lebih pelajar Korea yang dianalisis, lebih dari 53 persen mengalami social jetlag minimal satu jam tiap minggunya.
Yang bikin khawatir adalah, dampaknya semakin buruk seiring semakin kacaunya jam tidur mereka. Jikalau selisih jam tidur antara hari biasa dan akhir pekan semakin jauh, emosi mereka juga tercatat menjadi semakin labil.
Bayangkan saja, remaja dengan social jetlag di atas 2 jam punya risiko hingga 14,2 persen untuk memikirkan bunuh diri, jauh lebih tinggi dari kelompok di bawah 1 jam (11,2 persen). Bahkan, risiko untuk menyusun rencana hingga benar-benar mencoba bunuh diri ikut melonjak tajam pada kelompok ini.
Jadwal Tidur Bisa Memengaruhi Mental dan Psikologis
Angka-angka ini membuktikan bahwa bahaya social jetlag jauh melebihi rasa kantuk di kelas. Laporan yang dikutip Korea JoongAng Daily menegaskan bahwa kondisi ini menguras energi psikologis dan memicu stres pada remaja.
Konsisten dengan jam tidur memang sulit, apalagi saat beban akademik berbenturan dengan kebutuhan waktu pribadi di malam hari. Namun, mendisiplinkan jam tidur di hari biasa maupun hari libur adalah langkah proteksi diri yang mutlak wajib kita lakukan.
Bagi orang tua dan pihak sekolah, studi kurang tidur ini juga menjadi peringatan keras. Membangun kebiasaan tidur yang teratur pada remaja harus menjadi prioritas. Ingat, tidur bukan sekadar mengistirahatkan raga, tetapi juga menjadi fase pemulihan bagi pikiran.
Nah, andai kalian punya masalah dengan gangguan tidur, coba bantu tubuh supaya lebih rileks dengan Herba TDR. Formula Centella asiatica, Myristica fragrans, dan Curcuma xanthorrhiza di dalamnya terbukti secara empiris ampuh mengatasi insomnia dan berbagai gangguan tidur lainnya.

