Butuh Bantuan?
Risiko Penyakit yang Bisa Timbul Akibat Kebiasaan Begadang

Begadang seolah sudah menjadi budaya bagi banyak orang. Ada yang begadangnya karena deadline tugas, lembur, atau sekadar scroll sosial media. Awalnya terasa biasa saja. Padahal, ada risiko penyakit yang bisa mengintai akibat kebiasaan begadang ini.
Coba perhatikan keesokan harinya. Mata terasa berat, badan lemas, kepala sulit diajak berpikir, fokus menurun, dan emosi jadi lebih sensitif. Sedikit-sedikit mudah kesal. Banyak orang mengira kondisi ini hanya efek sementara dan bisa diatasi dengan minum kopi.
Padahal, kurang tidur tak hanya berpengaruh sehari di keesokan harinya saja. Jika kebiasaan begadang terus kita lakukan, dampaknya bisa merambat ke berbagai aspek kesehatan, bahkan bisa meningkatkan risiko penyakit serius dalam jangka panjang.
Risiko Penyakit Akibat Begadang
Tidur bukan sekadar waktu istirahat. Saat tidur, tubuh melakukan banyak proses penting, mulai dari memperbaiki sel yang rusak, mengatur hormon, menyeimbangkan metabolisme, hingga memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Ketika kita memangkas waktu tidur secara terus-menerus, proses-proses ini menjadi terganggu. Akibatnya, tubuh terpaksa bekerja dalam kondisi tak optimal, dan inilah yang membuka jalan bagi banyak penyakit kronis. Mengutip dari beberapa sumber, ada beberapa penyakit yang bisa muncul akibat kebiasaan begadang!
1. Obesitas dan Kenaikan Berat Badan

Ternyata, ada relasi antara kurang tidur dan kenaikan berat badan. Berbagai studi membuktikan bahwa orang yang tidurnya kurang dari 6 jam per malam, cenderung memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih tinggi ketimbang orang yang tidurnya cukup.
Sementara itu, orang yang tidur sekitar 7-8 jam per malam justru memiliki IMT paling ideal. Hal ini terjadi karena kurang tidur mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur nafsu makan. Tidur berpengaruh pada leptin (pemberi sinyal kenyang) dan ghrelin (pemicu lapar).
Kurang tidur membuat kadar leptin menurun dan ghrelin meningkat. Akibatnya, tubuh terus merasa lapar, bahkan setelah makan. Tak heran jika orang yang begadang sering ngemil tengah malam dan cenderung memilih makanan yang tinggi gula atau lemak.
Selain gangguan hormon terkait nafsu makan, kurang tidur juga bisa meningkatkan hormon kortisol (hormon stres) dan insulin. Kadar insulin yang tinggi, mendorong penyimpanan lemak dalam tubuh, yang lama-kelamaan meningkatkan risiko obesitas.
2. Diabetes
Penyakit yang berisiko timbul akibat begadang lainnya, salah satunya diabetes tipe 2. Hal ini karena saat tidur, tubuh tetap bekerja mengatur kadar gula darah agar tetap stabil. Jika waktu tidur berkurang, proses ini akan terganggu.
Studi menunjukkan bahwa pengurangan waktu tidur dari 8 jam menjadi hanya 4 jam per malam pada orang sehat dapat membuat tubuh mengolah glukosa lebih lambat. Artinya, gula darah akan lebih lama berada di dalam aliran darah pada orang yang kurang tidur.
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, bisa-bisa sensitivitas insulin akan menurun, dan risiko diabetes tipe 2 pun meningkat, bahkan pada orang yang sebelumnya tidak memiliki riwayat diabetes sekali pun.
3. Tekanan Darah Tinggi
Tidur malam yang cukup sangat penting bagi kesehatan jantung. Kurang tidur dapat memicu kenaikan tekanan darah, terlebih pada orang yang sudah memiliki tekanan darah tinggi. Bahkan, semalam saja penderita hipertensi kurang tidur, bisa menyebabkan tekanan darah tetap tinggi pada hari-hari berikutnya.
Jika kebiasaan ini berlanjut, risiko penyakit jantung dan stroke akan semakin besar. Penderita hipertensi, dituntut untuk menjaga kecukupan tidur, tak kurang, dan juga tak lebih. Tidur terlalu lama (lebih dari 9 jam per malam) juga bisa membuat risiko penyakit jantung meningkat.
4. Kesehatan Mental Terganggu

Pernah merasa lebih mudah marah, sensitif, atau murung setelah begadang? Itu bukanlah kebetulan. Kurang tidur memang sangat berpengaruh terhadap suasana hati dan kesehatan mental. Satu malam saja kurang tidur, bisa membuat seseorang lebih mudah tersinggung dan sulit mengendalikan emosi.
Dalam jangka panjang, gangguan tidur seperti insomnia berkaitan erat dengan depresi, kecemasan, dan stres berkepanjangan. Sebuah studi, pada sekitar 10.000 orang menunjukkan bahwa penderita insomnia memiliki risiko depresi lima kali lebih tinggi ketimbang orang yang tidurnya normal.
Penelitian lainnya juga melaporkan bahwa orang yang tidur hanya 4-4,5 jam per malam cenderung merasa lebih stres, sedih, marah, serta mengalami kelelahan mental. Namun, untungnya, sebagian besar efek ini bisa membaik ketika pola tidur sudah kembali normal.
5. Sistem Imunitas Menurun
Saat kita sakit, dokter sering menyarankan untuk memperbanyak istirahat. Ini bukan tanpa alasan. Saat tidur, tubuh memproduksi lebih banyak sel imun untuk melawan infeksi. Akibat begadang dan kurang tidur, sistem kekebalan tubuh melemah, sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap penyakit.
Selain itu, orang yang kurang tidur, saat sakit biasanya membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama. Tubuh memerlukan waktu istirahat untuk mengisi ulang energi setelah seharian beraktivitas. Jika waktu ini terus terpotong, daya tahan tubuh akan menurun secara perlahan.
6. Kesehatan Kulit Terganggu

Begadang juga berdampak pada penampilan kulit. Kurang tidur bisa menyebabkan kulit tampak kusam, muncul garis halus, hingga lingkaran hitam di bawah mata. Hal ini terjadi karena kurang tidur membuat produksi hormon kortisol meningkat.
Hormon kortisol sendiri bisa membuat cadangan kolagen di kulit pecah. Padahal, kolagen berperan penting dalam menjaga kulit tetap kencang, halus, dan elastis. Tidak heran jika istilah beauty sleep bukanlah sekadar mitos.
Cara Mengganti Tidur yang Kurang
Sayangnya, waktu tidur yang hilang tidak bisa diganti secara instan. Namun, kitaa bisa memperbaiki kondisinya secara bertahap dengan cara menormalkan kembali pola tidur. Beberapa langkah yang bisa kita lakukan, antara lain sebagai berikut.
- Tambahkan durasi tidur 1 jam lebih awal dari biasanya.
- Tidur saat tubuh mulai merasa lelah, bukan memaksakan begadang.
- Bangun secara alami tanpa alarm saat akhir pekan.
- Kurangi begadang yang tidak perlu.
- Batasi konsumsi kafein, terutama di sore dan malam hari.
Mulailah memperlakukan tidur sebagai kebutuhan dasarn. Dengan tidur cukup dan berkualitas, tubuh punya kesempatan untuk memperbaiki diri, menjaga kesehatan, dan menjalani aktivitas harian dengan lebih optimal.
Jika kalian mempunyai gangguan tidur, entah insomnia, tidur kurang nyenyak, dan sebagainya, cobalah berikhtiar dengan Herba TDR. Produk berbahan herbal alami ini terbuat dari Myristica fragrans, Centella asiatica, dan Curcuma xanthorrhiza.
Berkhasiat meredakan gejala gangguan tidur, insomnia, rasa cemas, sekaligus membuat saraf lebih rileks. Senyawa aktif di dalamnya membuat suasana hati lebih terjaga, memengaruhi neurotransmitter, serta mengurangi stres oksidatif berkat senyawa antioksidan di dalamnya, dengan tanpa efek samping!

