Butuh Bantuan?
Kata Dokter, Ini Cara Mencukupi Tidur Selama Bulan Puasa

Ramadan memang jadi momen spesial yang menuntut kita mengubah rutinitas secara drastis. Dari bangun di pukul 3 pagi, menahan lapar seharian, hingga lanjut ibadah malam harinya. Perubahan ini, kadang bikin jam tidur jadi berantakan. Lantas, bagaimana cara mencukupi jam tidur di bulan puasa?
Meski begitu, jangan sampai ibadah dan pekerjaan lancar, tetapi badan malah ambruk, ya? Nah, beberapa ahli kesehatan yang kami kutip di sini, punya trik jitu agar kita tetap bugar dan kebutuhan tidur tetap terpenuhi meski jadwal sedang padat-padatnya.
Kenapa Mencukupi Jam Tidur Selama Puasa Penting?

Melansir dari laman National Geographic, menurut Dr. Vishal Pawar, seorang ahli saraf, menyepelekan jam tidur itu bukan cuma memicu bad mood di besok paginya. Kurang tidur, punya dampak jangka panjang yang cukup mengerikan untuk mental dan fisik.
Mulai dari gangguan memori (jadi pelupa), susah fokus pas kerja, sampai bikin kecemasan dan depresi makin parah. Jadi, kalau kita merasa lebih cranky atau emosian saat puasa, bisa jadi itu bukan karena lapar saja, tapi karena kurang tidur juga.
Secara medis, otak orang dewasa itu membutuhkan istirahat total 7-9 jam dalam rentang 24 jam. Nah, tantangannya ialah, bagaimana caranya mendapatkan 7 jam itu kalau malamnya kita pakai untuk ibadah dan paginya harus bangun sahur?
Mengenal Konsep Mencicil Tidur saat Bulan Puasa

Untungnya, Dr. Irshaad Ebrahim dari London Sleep Centre Dubai menjelaskan bahwa kita tidak harus tidur 8 jam sekaligus dalam satu waktu. Pada bulan Ramadan, strategi terbaiknya adalah dengan membagi waktu tidur menjadi dua sesi (tidur bifasik).
Tidur bifasik adalah gaya tidur dua kali dalam satu hari. Biasanya terdiri dari satu tidur utama (5-6 jam di malam hari) dan satu tidur tambahan (20-90 menit di siang hari). Istilah “bi” berarti dua, sedangkan “fasik” merujuk pada fase atau sesi. Secara harfiah, tidur bifasik adalah tidur dua fase.
Pembagian tidur ke dalam dua sesi tersebut, yang terpenting adalah, kalau dijumlahkan, totalnya tetap mencapai target 7-9 jam tersebut. Lalu, bagaimana cara tahu apakah tidur kita sudah cukup atau belum? Sederhananya, jika merasa segar, tubuh cukup siaga, dan bisa kerja dengan nyaman, berarti sudah cukup.
Strategi Cicil Tidur saat Puasa
Cobalah tidur setelah salat Tarawih sampai waktu sahur. Meskipun cuma dapat 3-4 jam, ini adalah waktu krusial karena di jam-jam inilah kualitas tidur paling tinggi secara biologis. Tidur malam berfungsi untuk meregenerasi fungsi tubuh.
Nah, untuk menutupi kekurangannya, dokter menyarankan tidur lagi di siang atau sore hari. Idealnya, tidur antara waktu Zuhur dan Magrib selama 3-4 jam. Tentu, ini hanya berlaku untuk orang yang punya jadwal kerja fleksibel atau WFH (work from home), ya.
Sementara untuk pekerja kantoran dan tidak mungkin tidur selama itu, maka manfaatkan power nap. Tidur singkat selama 20-30 menit di saat istirahat siang, sangat ampuh untuk mereset otak, memperbaiki mood, dan bikin mata melek lagi.
Tips Supaya Tidur Berkualitas
Kesalahan paling umum adalah makan besar saat berbuka atau sahur, lalu langsung tidur. Hal ini bisa memicu heartburn atau asam lambung naik yang membuat tidur tidak nyenyak. Nah, meski sedang berpuasa, porsi sahur dan berbuka serta waktu tidur tetap harus diatur.
Selain itu, kurangi juga takjil dan menu sahur yang terlalu banyak goreng-gorengan dan masakan pedas. Makanan berlemak, gorengan, dan rasa pedas butuh waktu lama dicerna dan bisa bikin perut begah. Dan bagi yang suka ngopi, atur waktunya dengan bijak agar tak mengganggu waktu tidur.
Selain tidur, jangan lupa minum air yang cukup saat malam. Dan kalau sempat, cobalah berolahraga ringan seperti jalan kaki atau bersepeda santai selama 10 menit saja. Percaya atau tidak, sedikit gerak bisa membuat tidur malam lebih berkualitas.
Penutup
Untuk mencukupi jam tidur selama puasa, sebenarnya cukup mudah. Cukup luangkan waktu sebentar di siang hari untuk tidur, lalu pastikan juga tidur malam kita tepat waktu. Agar tidur siang tidak terlalu lama, kita bisa memakai alarm sebagai pengingat.
Namun, jika kalian memiliki masalah dengan insomnia, sleep inertia, atau gangguan tidur lainnya, Herba TDR mungkin bisa menjadi solusi untuk mengatasinya. Terbuat dari bahan alami Myristica fragrans, Centella asiatica, dan Curcuma xanthorrhiza, yang telah terbukti secara empiris mampu mengobati gangguan tidur.

