Butuh Bantuan?
Membahayakan Keselamatan, Kenali Penyebab Microsleep

Tidur adalah kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa kita abaikan. Sayangnya, di tengah kesibukan sehari-hari, masih banyak yang mengalami kekurangan tidur hingga menyebabkan tubuh kelelahan. Salah satu dampaknya adalah microsleep. Lantas, apa penyebab microsleep, ya?
Meski durasinya sangat singkat, microsleep sangat berbahaya karena selama fase ini, tubuh kehilangan kesadaran dan kemampuan untuk merespons sesuatu. Microsleep bahkan bisa mengancam keselamatan, terutama jika terjadi saat mengemudi atau bekerja.
Mengenal Pengertian Microsleep

Microsleep ialah kondisi ketika otak secara tiba-tiba masuk ke fase tidur singkat, tanpa kita menyadarinya. Fase ini biasanya berlangsung hanya sepersekian detik hingga sekitar 30 detik, namun cukup untuk membuat seseorang kehilangan fokus dan kendali atas apa yang sedang dikerjakan.
Uniknya, microsleep bisa terjadi meski mata masih dalam keadaan terbuka. Seseorang bisa saja terlihat terjaga, padahal otaknya sudah beristirahat sesaat. Itulah kenapa, orang yang mengalami microsleep sering kali tidak menyadarinya.
Dalam konteks tertentu, misalnya ketika kita sedang mengemudi di jalan tol, beberapa detik saja kehilangan fokus bisa berujung fatal. Mobil bisa keluar jalur, menabrak kendaraan lain, atau mengalami kecelakaan yang serius.
Data dari National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) menunjukkan bahwa mengantuk menyebabkan ribuan kecelakaan lalu lintas setiap tahunnya. Pada pekerja pabrik, konstruksi, hingga sopir truk, microsleep juga meningkatkan risiko kecelakaan.
Gejala dan Tanda Microsleep
Gejala microsleep kerap samar karena terjadi secara tiba-tiba. Namun, ada beberapa tanda yang bisa kita kenali sebelum tubuh benar-benar jatuh dalam tidur singkat ini, gejalanya antara lain sebagai berikut.
- Kelopak mata terasa berat, berkedip lebih lambat dari biasanya, atau mata tiba-tiba terpejam.
- Pandangan kosong atau menatap lurus tanpa fokus.
- Menguap berulang kali dalam waktu singkat.
- Tiba-tiba terkejut seperti terbangun tanpa sadar bahwa sempat tertidur.
- Sulit memahami informasi sederhana, misalnya percakapan atau instruksi.
- Mengalami jeda singkat saat melakukan aktivitas, misalnya berhenti mengetik beberapa detik tanpa alasan.
Orang yang mengalami microsleep sering kali tidak mengingat fase tersebut, seolah-olah pikirannya hanya kosong beberapa detik. Meski demikian, microsleep tidaklah timbul tanpa adanya penyebab yang jelas. Nah, jika kita mengalami salah satu dari penyebab microsleep, sebaiknya berhati-hati.
Apa Saja Penyebab Microsleep?
Kurangnya jam tidur adalah penyebab utama terjadinya microsleep. Namun, seberapa jumlah durasi kurang tidur ini bisa berbeda-beda, setiap orang bisa menunjukkan gejala dan respons yang berbeda. Hal ini juga tergantung pada kebiasaan dan pola tidur masing-masing.
Terlebih saat kita sudah terbiasa dengan jam tidur yang cukup, maka kekurangan tidur satu jam saja sudah bisa meningkatkan risiko terjadinya microsleep. Kurang tidur bukanlah satu-satunya penyebab, beberapa penyebab lainnya antara lain sebagai berikut.
1. Menderita Gangguan Tidur

Beberapa kondisi medis seperti insomnia, sleep apnea, narkolepsi, atau gangguan ritme sirkadian membuat kualitas tidur menurun. Akibatnya, kantuk mudah muncul di siang hari dan meningkatkan risiko terjadinya microsleep.
Simpelnya, penyakit-penyakit ini bisa mengganggu siklus tidur, baik itu dengan membuat tubuh sulit tidur, sering terbangun, atau pola tidur yang berantakan. Akibatnya, otak tak mendapatkan istirahat yang cukup, sebagai responsnya ia akan memaksa tubuh untuk tidur dengan cara microsleep.
2. Shifting Jam Kerja
Orang yang bekerja di malam hari, atau dengan jadwal berganti-ganti memang lebih rentan mengalami gangguan tidur. Penelitian yang terbit dalam jurnal Safety Science membuktikan bahwa pekerja shift tiga kali lebih berisiko mengalami kecelakaan akibat mengantuk.
Pekerjaan dengan sistem shift semacam ini meliputi tenaga medis, sopir, satpam, polisi, hingga pekerja gudang. Microsleep sangat mungkin terjadi, karena pola tidur dan durasi tidur yang berantakan, seperti pada penjelasan sebelumnya.
3. Kebiasaan Begadang

Kebiasaan begadang, baik untuk menyelesaikan pekerjaan, belajar, atau sekadar menonton hiburan, dapat menumpuk hutang tidur. Hal ini membuat tubuh mudah lelah pada keesokan harinya, sehingga microsleep lebih mungkin terjadi.
Saat kita begadang, tubuh tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk pemulihan diri. Efeknya, pada keesokan harinya, tubuh akan mudah lelah, otak berupaya menutupi kekurangan tidur ini dengan mengistirahatkan diri sejenak melalui microsleep.
4. Kondisi Psikologis
Stres, depresi, dan gangguan kecemasan juga bisa mengacaukan kualitas tidur dan meningkatkan risiko microsleep. Saat mengalami stres atau cemas, seseorang berada dalam kondisi siaga (mode fight-or-flight). Hal ini membuat otak kesulitan untuk rileks dan masuk ke fase tidur nyenyak.
Cara Mencegah Microsleep
Inti dari pencegahan microsleep adalah dengan tidur yang cukup. Namun, beberapa pekerjaan tertentu mungkin membuat kita terpaksa mengurangi jam tidur. Menurut The Better Sleep Council, cara mencegah microsleep antara lain sebagai berikut.
- Lakukan power nap selama 20-30 menit, tidur dalam waktu yang singkat bisa membantu mengembalikan energi dan membuat kita bisa fokus lebih lama dengan kondisi tidur yang kurang.
- Sempatkan untuk beristirahat dan menggerakan tubuh setidaknya tiap 30 menit sekali. Saat bergerak, aliran darah di dalam tubuh akan menjadi makin lancar. Hal ini bisa mengaktifkan kembali berbagai bagian otak dan menurunkan risiko microsleep.
- Tak ada salahnya untuk meminum minuman berkafein (teh, kopi, cokelat, atau soda) supaya tubuh bisa fokus sedikit lebih lama. Kafein akan memberi efek dalam 30 menit sejak diminum. Namun, hindari minuman ini empat jam sebelum tidur.
Solusi-solusi tersebut, tentunya tidak mampu mengatasi gejala dari sumbernya. Jika kita menderita insomnia dan gangguan tidur lainnya, Herba TDR bisa menjadi salah satu obat alaminya. Diformulasi dari Myristica fragrans dan Centella asiatica, mampu meredakan insomnia, menenangkan pikiran, dan menjaga daya tahan tubuh.

